Ngaji Pertanian Terpadu Basis Azolla Bersama LPPM UNSOED

Akhir pekan yang cerah, beberapa santri rubat mbalong tampak sibuk hilir mudik mempersiapkan sesuatu. Para tamu pun mulai berdatangan. dan puluhan tamu yang sudah hadir tampak duduk santai di Saung Bebarengan.

Sabtu, 30/4/2016 Pondok Rubat Mbalong Ell Firdaus mendapat kunjungan dari LPPM Unsoed. Ini merupakan kunjungan balasan setelah 2 minggu sebelumnya pengurus pondok berkunjung ke LPPM Unsoed dan melihat-lihat budidaya Azolla di Desa Banjarsari Kulon Kec. Sumbang Banyumas.

Tim LPPM Unsoed yang berkunjung adalah dari bagian pengembangan KKN fakultas pertanian Ir. Supartoto, M.Agr.Sc, Drs Dalhar Sodiq M.Si dan Narpun petani/peternak dari desa Banjarsari Kulon Kec. Sumbang Banyumas yang sukses bertani terpadu berbasis Azolla.

Dalam kesempatan ini, dihadapan 30an peserta yang hadir di Saung Bebarengan, Ir. Supartoto, M.Agr.Sc berbagi pengetahuan dan pengalamannya tentang pertanian terpadu berbasis Azolla.

Memulai pemaparan, Ir. Supartoto, M.Agr.Sc bercerita tentang minimnya pendapatan petani konvensional.

“Setelah beberapa hari kerja petani baru bisa dibayar dengan panen, itupun jika dihitung dengan biaya produksi sering impas kalau tidak ingin dikatakan merugi” katanya.

Lalu bagaimana meningkatkan pendapatan petani? Toto – nama panggilan Ir. Supartoto, M.Agr.Sc- melanjutkan bahwa solusinya dengan pertanian terpadu. Dimana petani bisa memperoleh hasil tidak hanya dari satu komoditas.

“Untuk membuat pertanian terpadu kita harus punya komoditas yang menyambung antar apa yang akan kita padukan” tegasnya.

Dia mencontohkan tentang Narpun, petani/peternak dari Banjarsari Kulon Kec Sumbang Banyumas yang memelihara unggas (itik, mentok & ayam), memiliki kolam gurame dan budidaya tanaman Azolla.

Setiap hari Narpun panen Azolla dimana sebagian dijual basah dengan harga Rp.20000/kg, sebagian lagi untuk pakan unggas dan ikan, serta diolah menjadi pupuk organik.

Narpun memelihara 100 itik dengan kebutuhan pakan 1,2 ons perekor itik untuk satu hari. Jadi sehari butuh 12 kg pakan. Setelah mengenal Azolla, 50% dari kebutuhan pakan diganti dengan Azolla yang dibudidaya sendiri. Jika dihitung dengan harga sekarang, setiap 1 kg pakan harganya berkisar Rp.6000, Narpun sehari hemat 6 kg x Rp.6000. Dalam sebulan 30 x Rp.360000, jadi sebulan hemat biaya pakan sekitar 1 juta.

Begitu besar manfaat Azolla, apa sih rahasianya? Menurut Ir. Supartoto, M.Agr.Sc, Azolla khususnya Azolla Microphylla merupakan tanaman air produsen bahan organik yang sangat tinggi dan cepat. Saking cepatnya dalam 24 hari bobotnya menjadi 20x lipat dengan doubling time 3-8 hari tergantung kesuburan air. Kandungan protein dan N dari Azolla sangat tinggi sehingga disukai oleh ikan dan ternak. Karena pertumbuhan Azolla sangat cepat, dalam sehari bisa dipanen 1/4 luas tanpa berkurang populasinya.

Selain itu kolam yang ditanami Azolla, kandungan Oksigennya sangat tinggi sekitar 8ppm dibanding kolam tanpa Azolla yang hanya 3-5 ppm. Jadi kolam berisi Azolla bagus untuk pertumbuhan ikan.

Apa yang dipaparkan oleh Ir. Supartoto, M.Agr.Sc dibenarkan oleh Narpun yang didapuk menceritakan pengalamannya. Dia mengakui merasakan betul manfaat dari Azolla.

“Saya mengenal Azolla 4 atau 5 tahun yang lalu, awalnya kula sering berlawanan dengan pak Supartoto. Jujur mawon kula wong praktek dan pak Supartoto ilmuwannya” kata Narpun memulai ceritanya.

Seiring berjalannya waktu, perpaduan apik praktisi dan ilmuwan akhirnya memberi hasil yang baik. Menurut Narpun selama 4 atau 5 tahun memelihara unggas baik itik, mentok atau ayam belum pernah menggunakan vaksinasi, atau obat apapun dan belum pernah mendapat wabah penyakit unggas.

“Menurut saya, menurut saya bukan dari ilmuwannya karena Azolla itu dalam “bahasa” saya istilahnya tidak tercemar apa-apa, kesehatannya lebih bagus” jelas Narpun.

Selain unggas tahan penyakit, Azolla juga meningkatkan bobot. Pengalaman Narpun, Mentok yang dipelihara dalam 60 hari bobot daging 2,6kg (daging tanpa bulu) hanya diberi pakan dedek dan Azolla. Cuma perlakuan 2 minggu pertama harus diberi pur, dijaga pakannya. Selain itu pakan jangan sering diubah-ubah.

Kegiatan belajar bertani terpadu berbasis Azolla ini diakhiri dengan sesi tanya jawab mengenai cara budidaya Azolla dan pemanfaatan Azolla untuk pupuk organik.

Dalam kegiatan ngaji pertanian terpadu berbasis Azolla ini, pengasuh pondok KH. M. Ahmad Hasan Masud tidak bisa hadir karena tengah mengisi pengajian di Sidareja. Selaku wakil pondok, Mardiyo Abdul Aziz mengucapkan banyak berterima kasih atas kehadiran tim Unsoed. Bahwa kegiatan ini sebagai bagian dari proses pemberdayaan dan ngaji bagi santri sehingga menjadi pengetahuan yang sangat bermanfaat.

2 thoughts on “Ngaji Pertanian Terpadu Basis Azolla Bersama LPPM UNSOED

  1. Mohon informasinya min …
    Langkah paling efektif dalam budidaya azolla tersebut seperti apa??
    Apa saja yang perlu diperhatikan sebelum memulai pembudidayaan Azolla tersebut??
    Mohon ulasannya …
    Terimakasih salam kenal …

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Top