Panen Padi Hazton Garapan Santri

panen-padi-hazton-lahan-sawah-ponpes-rubat-mbalong-ell-firdausPesantren Rubat Mbalong Ell Firdaus menjadi salah satu mitra dampingan BI Purwokerto dalam mencoba budidaya pertanian padi dengan Metode Hazton. Pada Selasa, 19 April 2016 untuk pertama kalinya panen padi yang menggunakan metode hazton di lahan sawah komplek Jatian Bulak Tombrong Desa Tambaksari Kec. Kedungreja Cilacap.

Kegiatan memanen padi dikerjakan selama dua hari oleh 5 santri Pondok Rubat Mbalong. Luas lahan untuk ujicoba metode hazton sekitar 65 ubin dengan jenis padi Legowo dan menghasilkan 8 kuintal padi.

Panen ini istimewa karena ini panen perdana padi hazton pada lahan sawah sesungguhnya. Sebelumnya Pondok Rubat Mbalong mencoba metode hazton pada lahan sawah pekarangan. Sawah dari kolam terpal dengan padi ditanam di polybag. Keistimewaan lain, selama proses tanam sepenuhnya menggunakan pupuk organik yang diolah oleh santri.

panen-padi-hazton-ponpes-rubat-mbalong-ell-firdaus-cilacap“Menurut warga sini biasanya 80 ubin panennya 6 kuital, kami 65 ubin bisa panen 8 kuintal” Kata Syamsul Amri, santri pondok Rubat Mbalong yang ikut dalam kegiatan panen perdana padi hazton ini.

Sekilas Tentang Metode Hazton
Metode Hazton merupakan teknik menanam tanaman padi yang mengadaptasi fisiologi tanaman padi itu sendiri. Metode Hazton mulai dikembangkan sejak hampir 2 tahun lalu dikembangkan di Kalimantan Barat. Metode ini diperkenalkan pertama kali oleh Kepala Dinas Tanaman Panngan dan Hortikultura Kaliantan Barat Hazairin dan salah seorang stafnya bernama Anton sehingga disingkatlah menjadi Hazton. Menurut sang proklamator Metode ini, dengan teknik Hazton ini mampu meningkatkan produktivitas tanaman hingga 2 kali lipat, di mana rata-rata produksi padi di Kalimantan Barat rata-rata hanya 3,5 ton/ha namun dengan teknologi hazton bisa mencapai 10 ton/ha.

panen-padi-hazton-ponpes-rubat-mbalong-ell-firdausApa dan bagaimana metode hazton itu sendiri? Sang penemu saat melakukan penelitian tidak melalui pengujian varietas dengan anakan terbanyak, pengaturan jarak tanam, pengaruh pemupukan, pengolahan tanah dan sebagainya. Akan tetapi Hazairin dan Anton menggunakan hipotesa awal yang sederhana yaitu bagaimana memperbanyak indukan produktif yang seragam dan serentak saat mengeluarkan malai. Penelitian dilakukan dengan cara menanam bibit dengan jumlah 1, 5, 10, 20, 30 dan 40 per lubang tanam. Dan hasil penelitian tersebut menunjukkan hasil terbaik adalah jumlah bibit 20 – 30 per lubang. Jadi Konsep Teknologi Hazton ini ada pada cara menaman yang biasanya hanya 5 bibit perlubang menjadi 20 – 30 per lubang. Bibit-bibit ini tidak menghasilkan anakan melainkan indukan yang sama sehingga hasilnya maksimal. Bagaimana bisa? Rahasianya ternyata adalah karena adaptasi fisiologi padi, dimana dengan jumlah bibit 20 -30 masing-masing bibit padi yang berada ditengah rumpun akan terjepit dan cenderung menjadi indukan utama yang produktif dan menghasilkan malai yang prima. Sedangkan bibit yang berada di pinggir rumpun akan menghasilkan 1-3 anakan yang semuanya produktif. Jadi kesimpulannya : dengan jumlah bibit 20 – 30 per lubang akan menghasilkan anakan produktif sekitar 40 -60 anakan/rumpun sehingga jumlah indukan dan anakan produktif inilah yang akan menghasilkan peningkatan produktivitas dan produksi. Namun dengan banyaknya jumlah bibit yang digunakan, maka benih yang digunakan lebih banyak dari teknik yang biasa dipakai. Sebagai perbandingan benih yang dibutuhkan dengan cara biasa sebanyak 25 kg/ha maka untuk teknologi hazton benih yang dibutuhkan sebanyak 125 kg/ha. Walaupun menggunakan benih yang cukup banyak sang penemu mengklaim dengan menggunakan teknologi hazton petani tetap mendapatkan keuntungan yang besar. Pupuk yang digunakan pun lebih banyak 10 – 25 % dari takaran normal, hanya saja pupuk menjadi lebih efisien karena diserap oleh indukan atau anakan produktif sehingga tanaman menjadi lebih subur. Selain itu teknologi hazton juga menggunakan bibit semai tua yaitu 30 – 35 hari setelah semai terutama untuk daerah endemik hama keong mas dan orong-orong serta lokasi yang terserang banjir. (sumber : bakorluh babel)

panen-haztonTapi tentu saja metode ini memiliki kekurangan, dimana tidak setiap daerah cocok memakai metode ini.
Berikut ini adalah beberapa keunggulan dan kelemahan metode Hazton:

Keunggulan:

Produksi panen tinggi.
Mudah dalam penanamannya.
Tanaman cepat beradaptasi/ tidak stres setelah tanam.
Relatif tahan terhadap hama keong mas dan orong-orong.
Sedikit atau bahkan tidak ada penyulaman dan penyiangan.
Umur panen lebih cepat
Mutu gabah tinggi
Prosentase beras pecah tergolong rendah

Kelemahan:

Memerlukan tambahan benih dari biasanya, keperluan benih untuk metode hazton berkisar antara 100-125 kg/ ha.
Karena tanaman rimbun, maka perlu dikawal dengan agencia hayati (imunisasi padi, penggunaan decomposer/sterilisasi lahan, dan bio fungisida).
Perlu pupuk (organik/ anorganik) tambahan dari dosis normal. (sumber : banyumasnews)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Top